Artikel Filsafat Pancasila
Sejarah Filsafat dan Kemanfaatannya Bagi Manusia
Tugas Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Filsafat Pancasila Dosen Pengampu Agus Prasetyo, S.Pd.,M.Pd
Penyusun : Rafika Febrilia (A220170059)
Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Penyusun : Rafika Febrilia (A220170059)
Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Apa itu
filsafat ? banyak orang masih menyatakan bahwa filsafat merupakan ilmu yang
rahasia, sukar untuk dimengerti dan mistis Adapula yang menyatakan bahwa
filsafat adalah kombinasi dari astrologi, teologi dan psikologi. Selain itu
karena filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan (mater scrintiarum)
maka cukup banyak pula orang yang menganggap filsafat sebagai ilmu yang paling
istimewa, ilmu yang menduduki tempat paling tinggi diantara seluru ilmu
pengetahuan yang ada. Oleh karena itu filsafat hanya mampu dipahami oleh orang jenius saja. Untuk mengetahui lebih tentang filsafat, kita mulai dari sejarah perkembangan filsafat.
1. Sejarah Filsafat
Secara garis besar, perkembangan sejarah
filsafat dibagi dalam lima tahap:
1. Filsafat
Yunani Kuno
2. Filsafat Abad
Pertengahan
3. Filsafat Modern
4. Filsafat
Posmodern
A.
Yunani Kuno
Bangsa Yunani
merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir.
Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya
tradisi berpikir bebas yang dimiliki bangsa Yunani. Kebebasan berpikir bangsa
Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan
pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan
India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa
Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan.
terhadap agama. Peran agama dimasa modern digantikan ilmu-ilmu positif Pada
masa Yunani kuno, filsafat secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa
agama masih kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan,
yaitu pada masa Thales (640-545 SM ).
Demikian
juga Phitagoras (572-500 SM ) belum murni rasional. Pada masa Yunani Klasik,
pertanyaan-pertanyaan yang berkembang adalah pertanyaan yang berhubungan alam
semesta. Ini berangkat dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang ada di
sekitarnya. Sebagai contoh, ketika manusia melihat segala sesuatu yang ada di
sekeliling mereka, muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai segala sesuatu itu.
Begitupun para filsuf zaman Yunani klasik ini. Mereka mempertanyakan hakikat
kehidupan ini. Sebagai contoh, Thales, salah seorang filsuf yang hidup pada
masa itu, mendapatkan kesimpulan bahwa penyebab pertama kehidupan adalah air
karena ia melihat adanya kehidupan ini karena ada air.
B.
Abad Pertengahan
Filsafat abad
pertengahan lahirnya agama sebagai kekuatan baru. Banyak filsuf yang lahir dari
latar belakang rohaniwan. Dengan lahirnya agama-agama sebagai kekuatan baru,
wahyu menjadi otoritas dalam. menentukan kebenaran. Sejak gereja (agama) mendominasi,
peranan akal (filsafat) menjadi sangat kecil. Karena, gereja telah membelokkan
kreatifitas akal dan mengurangi kemampuannya. Pada saat itu, pendidikan
diserahkan pada tokoh-tokoh gereja yang dikenal dengan "The
Scholastics", sehingga periode ini disebut dengan masa skolastik. Para
filosof aliran skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan
filosofisnya. Mereka berupaya memberikan pembenaran apa yang telah diterima
dari gereja secara rasional.
Di
antara filosof skolastik yang terkenal adalah Augustinus ( 354-430).
Menurutnya, dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang
mengendalikan, yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran
berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dari yang
tidak ada (creatioex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa,
dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan. Ciri khas filsafat abad
pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus (1033--1109), yaitu credo
utintelligam (saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda dengan
sifat filsafat rasional yang lebih mendahulukan pengertian dari pada iman.
C.
Filsafat Modern
Masa filsafat modern diawali dengan
munculnya Renaissance sekitar abad XV dan XVI M, yang bermaksud lepas dari
dogma-dogma, akhirnya muncul semangat perubahan dalam kerangka berfikir.
Problem utama masa Renaissance, sebagaimana periode skolastik, adalah sintesa
agama dan filsafat dengan arah yang berbeda. Era Renaissance ditandai dengan
tercurahnya perhatian pada berbagai bidang kemanusiaan, baik sebagai individu
maupun sosial.
Diantara filosof masa Renaissance adalah
Francis Bacon (1561-1626). Ia berpendapat bahwa filsafat harus dipisahkan dari
teologi. Meskipun ia meyakini bahwa penalaran dapat menunjukkan Tuhan, tetapi
ia menganggap bahwa segala sesuatu yang bercirikan lain dalam teologi hanya
dapat diketahui dengan wahyu, sedangkan wahyu sepenuhnya bergantung pada
penalaran. Hal ini menunjukkan bahwa Bacon termasuk orang yang membenarkan
konsep kebenaran ganda (double truth), yaitu kebenaran akal dan wahyu. Puncak
masa Renaissance muncul pada era Rene Descartes (1596-1650) yang dianggap
sebagai Bapak Filsafat Modern dan pelopor aliran Rasionalisme. Argumentasi yang
dimajukan bertujuan untuk melepaskan dari kungkungan gereja. Salah satu
semboyannya "cogito ergo sum" (saya berpikir maka saya ada).
Pernyataan ini sangat terkenal dalam perkembangan pemikiran modern, karena
dianggap mengangkat kembali derajat rasio dan pemikiran sebagai indikasi eksistensi
setiap individu.
Dalam hal ini, filsafat kembali
mendapatkan kejayaannya dan mengalahkan peran agama, karena dengan rasio
manusia dapat memperoleh kebenaran. Kemudian muncul aliran Empirisme, dengan
pelopor utamanya, Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran
Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan dan pengenalan berasal dari pengalaman,
baik pengalaman batiniah maupun lahiriah. Aliran ini juga menekankan pengenalan
inderawi sebagai bentuk pengenalan yang sempurna.
Di tengah bergemanya pemikiran
rasionalisme dan empirisme, muncul gagasan baru di Inggris, yang kemudian
berkembang ke Perancis dan akhirnya ke Jerman. Masa ini dikenal dengan
Aufklarung atau Enlightenment atau masa pencerahan sekitar abad XVIII M. Pada
masa Aufklarung ini muncul keinginan manusia modern menyingkap misteri dunia
dengan kekuatan akal dan kebebasan berpikir. Tokoh filsuf yang sangat
mengagungkan kekuatan akal dan dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern adalah
Rene Descartes. Pada abad ini dirumuskan adanya keterpisahan rasio dari agama,
akal terlepas dari kungkungan gereja, sehingga Voltaire (1694-1778) menyebutnya
sebagai the age of reason (zaman penalaran). Sebagai salah satu konsekuensinya
adalah supremasi rasio berkembang pesat yang pada gilirannya mendorong berkembangnya filsafat dan sains.
Periode filsafat modern di Barat
menunjukkan adanya pergeseran, segala bentuk dominasi gereja, kependetaan dan
anggapan bahwa kitab suci sebagai satu-satunya sumber pengetahuan
diporak-porandakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa abad modern
merupakan era pembalasan terhadap zaman skolastik yang didominasi gereja.
D.
Posmodernisme
Postmodernisme pada dasarnya merupakan
pandangan yang tidak/kurang mempercayai narasi-narasi universal serta kesamaan
dalam segala hal, faham ini lebih memberikan tempat pada narasi-narasi kecil
dan lokal yang berarti lebih menekankan pada keberagaman dalam memaknai
kehidupan.
Filsafat postmodern ditandai dengan
keinginan untuk mendobrak sifat-sifat filsafat modern yang mengagungkan
keuniversalitasan, kebenaran tunggal, dan kebebasnilaian. Karena itu, filsafat
postmodern sangat mengagungkan nilai-nilai relativitas dan mininarasi, berbeda
dengan filsafat modern yang mengagungkan narasi-narasi besar. Filsafat
postmodern cenderung lebih beragam dalam hal pemikirian. Pada awal abad XX, di
Inggris dan Amerika muncul aliran Pragmatisme yang dipelopori oleh William Jam
es (1842-1910). Sebenarnya, Pragmatisme awalnya diperkenalkan oleh C.S. Pierce
(1839-1914).
Menurutnya, kepercayaan menghasilkan
kebiasaan, dan berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan
kebiasaan yang dihasilkan. Oleh karena itu, kepercayaan adalah aturan
bertindak. William James berpendapat bahwa teori adalah alat untuk memecahkan
masalah dalam pengalaman hidup manusia. Karena itu, teori dianggap benar, jika
teori berfungsi bagi kehidupan manusia. Sedangkan agama, menurutnya, mempunyai
arti sebagai perasaan (feelings), tindakan (acts) dan pengalaman individu
manusia ketika mencoba memahami hubungan dan posisinya di hadapan apa yang m
ereka anggap suci. Dengan demikian, keagam aan bersifat unik dan membuat
individu menyadari bahwa dunia merupakan bagian dari system spiritual yang
dengan sendirinya memberi nilai bagi atau kepadanya. Agak berbeda dengan William
James, tokoh Pragmatisme lainnya, John Dewey (1859-1952) menyatakan bahwa tugas
filsafat yang terpenting adalah memberikan pengarahan pada perbuatan manusia
dalam praktek hidup yang harus berpijak pada pengalaman.
Pada saat yang bersamaan, juga berkembang
aliran Fenomenologi di Jerman yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938).
Menurutnya, untuk mendapatkan pengetahuan yang benar ialah dengan menggunakan
intuisi langsung, karena dapat dijadikan kriteria terakhir dalam filsafat.
Baginya, Fenomenologi sebenarnya merupakan teori tentang fenomena; ia
mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri. Pada abad tersebut juga
lahir aliran Eksistensialisme yang dirintis oleh Soren Kierkegaard (1813-1855).
2. Ciri-ciri Berpikir
Filsafat
- Radikal, artinya berfikir sampai keakar akarnya. Radikal berasal dari bahasa yunani, yaitu radix yang berarti akar. Maksud dari berfikir sampai ke akar akarnya adalah sampai pada hakikat, esensi atau sampai pada substansi yang difikirkan. Manusia yang berfilsafat dengan akal berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi. Contoh: Jika memikirkan tentang kuda, maka kita perlu mempertanyakan hal-hal sampai ke substansi yang paling dalam yang melibatkan seluruh indrawi manusia, seperti: kuda termasuk hewan apa? seperti apa ciri-ciri kuda? Berapa kaki kuda? berapa kuku yang dimiliki masing masing kuda? apa guna kuku tersebut? mengapa kuku kuda berbeda dengan kuku binatang lainnya? dan lain sebagainya.
- Universal dan Umum. Universal yang dimaksud disini adalah berfikir secara umum atau berfikir tentang hal hal serta suatu proses yang bersifat umum. Jalan yang dituju oleh seorang filsuf adalah keumuman yang diperoleh dari hal hal yang bersifat khusus yang ada dalam kenyataan.Contoh; jika kita memikirkan tentang alam semesta dalam lingkup galaksi Bimasakti, maka yang dipikirkan bukan hanya satu planet bumu saja, akan tetapi secara umum yang difikirkan adalah semua planet yang ada dalam galaksi bimasakti tersebut, melingkupi merkurius, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, uranus, dan neptunus.
- Konseptual.
Konsptual yang dimaksud disini merupakan hasil generalisasi dan abstraksi dari
pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual. Berfikir secara
kefilsafatan tidak bersangkutan dengan pemikiran terhadap perbuatan-perbuatan
bebas yang dilakukan oleh orang-orang tertentu sebagaimana yang biasa
dipelajari oleh seorang psikolog, melainkan bersangkutan dengan pemikiran
"apakah kebebasan itu?"
- Koheren dan Konsisten,
artinya berpikir sesuai kaidah-kaidah berpikir yang tidak mengandung
kontradiksi atau dapat pula diartikan dengan berfikir secara runtut. Runtut
artinya berfikir filsafat harus berfikir dari awal hingga akhir. Seperti
membuat makalah/karya ilmiah, kita tidak bisa membuat karya ilmiah dari
pembahasan terlebih dahulu tanpa adanya pendahuluan. Tidak mengandung
kontradiksi artinya tidak mengandung pertentangan antara dua hal yang
difikirkan, karena dua hal tersebut tidak dapat sama-sama benar pada waktu yang
sama dan dalam pengertian yang sama. Misalnya, kita memikirkan tentang Bumi. Si
A mengatakan bahwa bumi itu bulat, sedangkan si B mengatakan bumi itu datar.
Entah siapa dari mereka yang benar, yang jelas kalau ternyata A benar, berarti
B salah. Sebaliknya kalau A salah berarti B benar. Hanya ada dua kemungkinan
dan tidak mungkin kedua duanya sama sama benar, sehingga kemudia tidak akan
dipertentangkan.
- Sistemik,
yaitu saling berhubungan antara unsur-unsur yang menyusu suatu bagan
konsseptual. Dalam mengemukakan jawaban terhadap suatu masalah para filsuf
memakai pendapat-pendapat itu harus saling berhubungan secara teratur dan
terkandung maksud dan tujuan tertentu. Selain itu, sistemik juga berarti bahwa
kita harus berfikir secara berjenjang, mulai dari yang paling atas terlebih
dahulu baru bagian kebawah. Seperti berpikir tentang peraturan
perundang-undangan di Indonesia, maka kita harus memikirkan UUD 1945 terlebih
dahuluu baru kemudian membahas aturan yang ada dibawahnya.
- Komprehensif,
yaitu menyeluruh. Berfikir scara komprehensif merupakan berfikir filsafat yang
berusaha untuk menjelaskan alam semesta/segala sesuatu secara keseluruhan.
Contoh: Jika kita memikirkan tentang bumi, maka yang difikirkan adalah apa yang
ada dalam planet bumi ini, termasuk pegunungan, hutan, laut, hingga manusia
sebagai salah satu penghuni bumi.
- Bebas. makna bebas disini bahwa filsafat merupakan pemikiran yang bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, atau religius. berfikir dengan bebas itu bukan berarti sembarangan, sesuka hati atau anarki, sebaliknya bahwa berpikir bebas adalah berfikir secara terikat, akan tetapi ikatan itu berasal dari dalam, dari kaidah-kaidah, dari disiplin pikiran itu sendiri. Dengan demikian pikiran dari luar sangat bebas, namun dari dala sangatlah terikat.
a.
Logika.
Logika merupakan cabang
filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya suatu pemikiran kita. Lapangan dalam logika
adalah asas-asas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat dan sehat. Dengan
mempelajari logika diharapkan seseorang akan dapat menerapkan asas bernalar
sehingga dapat menarik kesimpula ndengan tepat. Persoalan-persoalan logika
antara lain apa yang dimaksud dengan pengertian?apa yang dimaksud dengan
penyimpulan?Apa aturan-aturan untuk dapat menyimpulkan secara lurus?Sebutkan
pembagian silogisme?.
b.
Epistemologi
Epistemologi
merupakan bagian filsafat yang menerangkan tentang terjadinya pengetahuan, sumber
pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kesahihan
pengetahuan. Contohnya dalam filsafat ilmu yaitu mempelajari tentang ciri-ciri
pengetahuan ilmiah dan bagaimana cara mendapatkannya. Dengan belajar
epistemologi dan filsafat ilmu diharapkan dapat membedakan antara pengetahuan
dan ilmu serta mengetahui kebenaran suatu ilmu itu ditinjau dari isinya.
Persoalan dalam epistemologi diantaranya bagaimanakah manusia dapat mengetahui
sesuatu?Darimana pengetahuan itu diperoleh?
c.
Etika
Etika
adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia
dalam hubungannya dengan baik-buruk. Etika dapat membantu kita mengetahui dan
memahami tingkah laku apa yang baik menurut teori-teori tertentu. Jadi objek
material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia yang dilakukan secara
sadar dan bebas. Objek formal etika adalah kebaikan dan keburukan. Contoh
persoalan yang berkaitan dnegan etika diantaranya Bagaimana peranan hati nurani
dalam setiap perbuatan manusia?
d.
Estetika
Estetika
merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan. Objek dari
estetika adalah pengalaman akan keindahan. Dengan belajar estetika diharapkan
dapat membedakan antara estetika filsafat dan estetika ilmiah, teori-teori
keindahan, definisi seni, nilai seni dan teori penciptaan dalam seni. Persoalan
yang berkaitan dengan etika misalnya Bagaimana hubungan antara keindahan dengan
kebenaran?
e.
Metafisika
Metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan
tentang yang ada. Metafisika membicarakan sesuaru di balik yang tampak. Dengan
belajar metafisika maka seseorang akan mengenal Tuhannya. Perosalan metafisis
dibagi tiga yaitu ontologi, kosmologi, dan antropologi. Contoh persoalan
metafisika antara lain apakah ruang dan waktu itu? manusia sebagai mahluk bebas
atau tidak bebas.
4. Manfaat Filsafat Bagi Manusia
Filsafat
mampu memberikan pemahaman yang menyeluruh (general) terhadap suatu wujud
(ontologi) sekaligus memberikan konsep kebenaran (justifikasi) sekaligus
memberikan konsep kebenaran. Filsafat mampu memberikan kepuasan bagi
filsuf/seseorang karena kemampuannya dalam menggambarkan problem kehidupan yang
sedang dan akan dihadapi sesuai dengan leluasan pemahamannya. Selanjutnya
filsafat juga memberikan penjelasan bagaimana cara berprilaku dalam
bermasayarakat dan bersosialisasi. Ajaran perilaku yang baik selalu diajarkan
oleh agama manapun. Dan filsafat semakin memperjelas perilaku yang baik itu
seperti apa dan yang tidak baik itu seperti apa. Etika berhubungan dengan yang
lebih kecil, lebih tua dan sama besar juga perlu dimengerti. Dan yang paling
mendasar dari ilm filsafat adalah sumber inspirasi bagi setiap bidang kehidupan
yang ada yaitu ekonomi, pemerintahan dan pembangunan. Beberapa manfaat filsafat
bagi manusia :
a. Tidak
menjadi sombong
Filsafat adalah ilmu kehidupan yang
mempelajari berbagai kehidupan. Orang yang mengerti apa itu arti kehidupan
menjadikannya lebih rendah hati dan tidak sombong karena itulah hakekat
kehidupan. Hidup hanya sementara aja dan tidak akan selamanya. Semua yang kita
miliki hanyalah titipan dari Sang Pencipta.
b.
Berfikir kritis
Berfikir juga merupakan
manfaat ilmu filsafat selanjutnya. Berfikir kritis mengajarkan kita untuk
mempelajari ha-hal yang tidak diketahui dan mencari tahu kenyataanya. Berfikir
kritis merupakan aspek yang diperlukan karena tidak semua orang memiliki
fikiran yang kritis. Berfikir kritis berarti berfikiran terbuka yang tidak
hanya siap untuk dinasehati namun juga menasehati.
c.
Mampu menyelesaikan masalah
Manfaat selanjutnya
dari ilmu filsafat selain mengajak untuk berfikir secara kritis juga bermanfaat
untuk menyelesaikan masalah. Dalam kehidupan yang namanya masalah tentu akan
selalu ada. Dan untuk menghadapi masalah memerlukan ketenengan lahir dan batin.
Sehingga hasil yang didapat tidak disesali kemudian hari. Mampu menyelesaikan
masalah secara baik membuktikan bahwa memiliki jiwa yang besar tidak semua
orang punya. Hanya orang tertentu saja yang bisa melakukannya. Jadi mempelajari
ilmu filsafat dan memahami ilmu filsafat amat sangat penting untuk menentukan
cara bersikap kita secara baik dalam menhadapi masalah dan menemukan solusi
dari masalah tersebut.
Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar