Selasa, 24 September 2019

SEJARAH FILSAFAT DAN KEMANFAATANNYA BAGI MANUSIA

Artikel Filsafat Pancasila

Sejarah Filsafat dan Kemanfaatannya Bagi Manusia
Tugas Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Filsafat Pancasila Dosen Pengampu Agus Prasetyo, S.Pd.,M.Pd
 Penyusun : Rafika Febrilia (A220170059)
Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Universitas Muhammadiyah Surakarta 

Apa itu filsafat ? banyak orang masih menyatakan bahwa filsafat merupakan ilmu yang rahasia, sukar untuk dimengerti dan mistis Adapula yang menyatakan bahwa filsafat adalah kombinasi dari astrologi, teologi dan psikologi. Selain itu karena filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan (mater scrintiarum) maka cukup banyak pula orang yang menganggap filsafat sebagai ilmu yang paling istimewa, ilmu yang menduduki tempat paling tinggi diantara seluru ilmu pengetahuan yang ada. Oleh karena itu filsafat hanya mampu dipahami oleh orang jenius saja. Untuk mengetahui lebih tentang filsafat, kita mulai dari sejarah perkembangan filsafat.

1. Sejarah Filsafat
    Secara garis besar, perkembangan sejarah filsafat dibagi dalam lima tahap:
1. Filsafat Yunani Kuno
2. Filsafat Abad Pertengahan
3. Filsafat Modern
4. Filsafat Posmodern
A.    Yunani Kuno
               Bangsa Yunani merupakan bangsa yang pertama kali berusaha menggunakan akal untuk berpikir. Kegemaran bangsa Yunani merantau secara tidak langsung menjadi sebab meluasnya tradisi berpikir bebas yang dimiliki bangsa Yunani. Kebebasan berpikir bangsa Yunani disebabkan di Yunani sebelumnya tidak pernah ada agama yang didasarkan pada kitab suci. Keadaan tersebut jelas berbeda dengan Mesir, Persia, dan India. Sedangkan Livingstone berpendapat bahwa adanya kebebasan berpikir bangsa Yunani dikarenakan kebebasan mereka dari agama dan politik secara bersamaan. terhadap agama. Peran agama dimasa modern digantikan ilmu-ilmu positif Pada masa Yunani kuno, filsafat secara umum sangat dominan, meski harus diakui bahwa agama masih kelihatan memainkan peran. Hal ini terjadi pada tahap permulaan, yaitu pada masa Thales (640-545 SM ).
               Demikian juga Phitagoras (572-500 SM ) belum murni rasional. Pada masa Yunani Klasik, pertanyaan-pertanyaan yang berkembang adalah pertanyaan yang berhubungan alam semesta. Ini berangkat dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang ada di sekitarnya. Sebagai contoh, ketika manusia melihat segala sesuatu yang ada di sekeliling mereka, muncul pertanyaan-pertanyaan mengenai segala sesuatu itu. Begitupun para filsuf zaman Yunani klasik ini. Mereka mempertanyakan hakikat kehidupan ini. Sebagai contoh, Thales, salah seorang filsuf yang hidup pada masa itu, mendapatkan kesimpulan bahwa penyebab pertama kehidupan adalah air karena ia melihat adanya kehidupan ini karena ada air.

B.      Abad Pertengahan
               Filsafat abad pertengahan lahirnya agama sebagai kekuatan baru. Banyak filsuf yang lahir dari latar belakang rohaniwan. Dengan lahirnya agama-agama sebagai kekuatan baru, wahyu menjadi otoritas dalam. menentukan kebenaran. Sejak gereja (agama) mendominasi, peranan akal (filsafat) menjadi sangat kecil. Karena, gereja telah membelokkan kreatifitas akal dan mengurangi kemampuannya. Pada saat itu, pendidikan diserahkan pada tokoh-tokoh gereja yang dikenal dengan "The Scholastics", sehingga periode ini disebut dengan masa skolastik. Para filosof aliran skolastik menerima doktrin gereja sebagai dasar pandangan filosofisnya. Mereka berupaya memberikan pembenaran apa yang telah diterima dari gereja secara rasional.
               Di antara filosof skolastik yang terkenal adalah Augustinus ( 354-430). Menurutnya, dibalik keteraturan dan ketertiban alam semesta ini pasti ada yang mengendalikan, yaitu Tuhan. Kebenaran mutlak ada pada ajaran agama. Kebenaran berpangkal pada aksioma bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dari yang tidak ada (creatioex nihilo). Kehidupan yang terbaik adalah kehidupan bertapa, dan yang terpenting adalah cinta pada Tuhan. Ciri khas filsafat abad pertengahan ini terletak pada rumusan Santo Anselmus (1033--1109), yaitu credo utintelligam (saya percaya agar saya paham). Filsafat ini jelas berbeda dengan sifat filsafat rasional yang lebih mendahulukan pengertian dari pada iman.
C.    Filsafat Modern
Masa filsafat modern diawali dengan munculnya Renaissance sekitar abad XV dan XVI M, yang bermaksud lepas dari dogma-dogma, akhirnya muncul semangat perubahan dalam kerangka berfikir. Problem utama masa Renaissance, sebagaimana periode skolastik, adalah sintesa agama dan filsafat dengan arah yang berbeda. Era Renaissance ditandai dengan tercurahnya perhatian pada berbagai bidang kemanusiaan, baik sebagai individu maupun sosial.
Diantara filosof masa Renaissance adalah Francis Bacon (1561-1626). Ia berpendapat bahwa filsafat harus dipisahkan dari teologi. Meskipun ia meyakini bahwa penalaran dapat menunjukkan Tuhan, tetapi ia menganggap bahwa segala sesuatu yang bercirikan lain dalam teologi hanya dapat diketahui dengan wahyu, sedangkan wahyu sepenuhnya bergantung pada penalaran. Hal ini menunjukkan bahwa Bacon termasuk orang yang membenarkan konsep kebenaran ganda (double truth), yaitu kebenaran akal dan wahyu. Puncak masa Renaissance muncul pada era Rene Descartes (1596-1650) yang dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern dan pelopor aliran Rasionalisme. Argumentasi yang dimajukan bertujuan untuk melepaskan dari kungkungan gereja. Salah satu semboyannya "cogito ergo sum" (saya berpikir maka saya ada). Pernyataan ini sangat terkenal dalam perkembangan pemikiran modern, karena dianggap mengangkat kembali derajat rasio dan pemikiran sebagai indikasi eksistensi setiap individu.
Dalam hal ini, filsafat kembali mendapatkan kejayaannya dan mengalahkan peran agama, karena dengan rasio manusia dapat memperoleh kebenaran. Kemudian muncul aliran Empirisme, dengan pelopor utamanya, Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-1704). Aliran Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan dan pengenalan berasal dari pengalaman, baik pengalaman batiniah maupun lahiriah. Aliran ini juga menekankan pengenalan inderawi sebagai bentuk pengenalan yang sempurna.
Di tengah bergemanya pemikiran rasionalisme dan empirisme, muncul gagasan baru di Inggris, yang kemudian berkembang ke Perancis dan akhirnya ke Jerman. Masa ini dikenal dengan Aufklarung atau Enlightenment atau masa pencerahan sekitar abad XVIII M. Pada masa Aufklarung ini muncul keinginan manusia modern menyingkap misteri dunia dengan kekuatan akal dan kebebasan berpikir. Tokoh filsuf yang sangat mengagungkan kekuatan akal dan dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern adalah Rene Descartes. Pada abad ini dirumuskan adanya keterpisahan rasio dari agama, akal terlepas dari kungkungan gereja, sehingga Voltaire (1694-1778) menyebutnya sebagai the age of reason (zaman penalaran). Sebagai salah satu konsekuensinya adalah supremasi rasio berkembang pesat yang pada gilirannya mendorong berkembangnya filsafat dan sains.
Periode filsafat modern di Barat menunjukkan adanya pergeseran, segala bentuk dominasi gereja, kependetaan dan anggapan bahwa kitab suci sebagai satu-satunya sumber pengetahuan diporak-porandakan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa abad modern merupakan era pembalasan terhadap zaman skolastik yang didominasi gereja.

D.    Posmodernisme
Postmodernisme pada dasarnya merupakan pandangan yang tidak/kurang mempercayai narasi-narasi universal serta kesamaan dalam segala hal, faham ini lebih memberikan tempat pada narasi-narasi kecil dan lokal yang berarti lebih menekankan pada keberagaman dalam memaknai kehidupan.
Filsafat postmodern ditandai dengan keinginan untuk mendobrak sifat-sifat filsafat modern yang mengagungkan keuniversalitasan, kebenaran tunggal, dan kebebasnilaian. Karena itu, filsafat postmodern sangat mengagungkan nilai-nilai relativitas dan mininarasi, berbeda dengan filsafat modern yang mengagungkan narasi-narasi besar. Filsafat postmodern cenderung lebih beragam dalam hal pemikirian. Pada awal abad XX, di Inggris dan Amerika muncul aliran Pragmatisme yang dipelopori oleh William Jam es (1842-1910). Sebenarnya, Pragmatisme awalnya diperkenalkan oleh C.S. Pierce (1839-1914).
Menurutnya, kepercayaan menghasilkan kebiasaan, dan berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan kebiasaan yang dihasilkan. Oleh karena itu, kepercayaan adalah aturan bertindak. William James berpendapat bahwa teori adalah alat untuk memecahkan masalah dalam pengalaman hidup manusia. Karena itu, teori dianggap benar, jika teori berfungsi bagi kehidupan manusia. Sedangkan agama, menurutnya, mempunyai arti sebagai perasaan (feelings), tindakan (acts) dan pengalaman individu manusia ketika mencoba memahami hubungan dan posisinya di hadapan apa yang m ereka anggap suci. Dengan demikian, keagam aan bersifat unik dan membuat individu menyadari bahwa dunia merupakan bagian dari system spiritual yang dengan sendirinya memberi nilai bagi atau kepadanya. Agak berbeda dengan William James, tokoh Pragmatisme lainnya, John Dewey (1859-1952) menyatakan bahwa tugas filsafat yang terpenting adalah memberikan pengarahan pada perbuatan manusia dalam praktek hidup yang harus berpijak pada pengalaman.
Pada saat yang bersamaan, juga berkembang aliran Fenomenologi di Jerman yang dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938). Menurutnya, untuk mendapatkan pengetahuan yang benar ialah dengan menggunakan intuisi langsung, karena dapat dijadikan kriteria terakhir dalam filsafat. Baginya, Fenomenologi sebenarnya merupakan teori tentang fenomena; ia mempelajari apa yang tampak atau yang menampakkan diri. Pada abad tersebut juga lahir aliran Eksistensialisme yang dirintis oleh Soren Kierkegaard (1813-1855).

     2. Ciri-ciri Berpikir Filsafat
  • Radikal, artinya berfikir sampai keakar akarnya. Radikal berasal dari bahasa yunani, yaitu radix yang berarti akar. Maksud dari berfikir sampai ke akar akarnya adalah sampai pada hakikat, esensi atau sampai pada substansi yang difikirkan. Manusia yang berfilsafat dengan akal berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi. Contoh: Jika memikirkan tentang kuda, maka kita perlu mempertanyakan hal-hal sampai ke substansi yang paling dalam yang melibatkan seluruh indrawi manusia, seperti: kuda termasuk hewan apa? seperti apa ciri-ciri kuda? Berapa kaki kuda? berapa kuku yang dimiliki masing masing kuda? apa guna kuku tersebut? mengapa kuku kuda berbeda dengan kuku binatang lainnya? dan lain sebagainya.
  • Universal dan Umum. Universal yang dimaksud disini adalah berfikir secara umum atau berfikir tentang hal hal serta suatu proses yang bersifat umum. Jalan yang dituju oleh seorang filsuf adalah keumuman yang diperoleh  dari hal hal yang bersifat khusus yang ada dalam kenyataan.Contoh; jika kita memikirkan tentang alam semesta dalam lingkup galaksi Bimasakti, maka yang dipikirkan bukan hanya satu planet bumu saja, akan tetapi secara umum yang difikirkan adalah semua planet yang ada dalam galaksi bimasakti tersebut, melingkupi merkurius, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, uranus, dan neptunus.
  •  Konseptual. Konsptual yang dimaksud disini merupakan hasil generalisasi dan abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal serta proses-proses individual. Berfikir secara kefilsafatan tidak bersangkutan dengan pemikiran terhadap perbuatan-perbuatan bebas yang dilakukan oleh orang-orang tertentu sebagaimana yang biasa dipelajari oleh seorang psikolog, melainkan bersangkutan dengan pemikiran "apakah kebebasan itu?"
  •  Koheren dan Konsisten, artinya berpikir sesuai kaidah-kaidah berpikir yang tidak mengandung kontradiksi atau dapat pula diartikan dengan berfikir secara runtut. Runtut artinya berfikir filsafat harus berfikir dari awal hingga akhir. Seperti membuat makalah/karya ilmiah, kita tidak bisa membuat karya ilmiah dari pembahasan terlebih dahulu tanpa adanya pendahuluan. Tidak mengandung kontradiksi artinya tidak mengandung pertentangan antara dua hal yang difikirkan, karena dua hal tersebut tidak dapat sama-sama benar pada waktu yang sama dan dalam pengertian yang sama. Misalnya, kita memikirkan tentang Bumi. Si A mengatakan bahwa bumi itu bulat, sedangkan si B mengatakan bumi itu datar. Entah siapa dari mereka yang benar, yang jelas kalau ternyata A benar, berarti B salah. Sebaliknya kalau A salah berarti B benar. Hanya ada dua kemungkinan dan tidak mungkin kedua duanya sama sama benar, sehingga kemudia tidak akan dipertentangkan.
  • Sistemik, yaitu saling berhubungan antara unsur-unsur yang menyusu suatu bagan konsseptual. Dalam mengemukakan jawaban terhadap suatu masalah para filsuf memakai pendapat-pendapat itu harus saling berhubungan secara teratur dan terkandung maksud dan tujuan tertentu. Selain itu, sistemik juga berarti bahwa kita harus berfikir secara berjenjang, mulai dari yang paling atas terlebih dahulu baru bagian kebawah. Seperti berpikir tentang peraturan perundang-undangan di Indonesia, maka kita harus memikirkan UUD 1945 terlebih dahuluu baru kemudian membahas aturan yang ada dibawahnya.
  •  Komprehensif, yaitu menyeluruh. Berfikir scara komprehensif merupakan berfikir filsafat yang berusaha untuk menjelaskan alam semesta/segala sesuatu secara keseluruhan. Contoh: Jika kita memikirkan tentang bumi, maka yang difikirkan adalah apa yang ada dalam planet bumi ini, termasuk pegunungan, hutan, laut, hingga manusia sebagai salah satu penghuni bumi.
  • Bebas. makna bebas disini bahwa filsafat merupakan pemikiran yang bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural, atau religius. berfikir dengan bebas itu bukan berarti sembarangan, sesuka hati atau anarki, sebaliknya bahwa berpikir bebas adalah berfikir secara terikat, akan tetapi ikatan itu berasal dari dalam, dari kaidah-kaidah, dari disiplin pikiran itu sendiri. Dengan demikian pikiran dari luar sangat bebas, namun dari dala sangatlah terikat.
3. Cabang-cabang Filsafat
a.    Logika.
   Logika merupakan cabang filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya suatu pemikiran kita. Lapangan dalam logika adalah asas-asas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat dan sehat. Dengan mempelajari logika diharapkan seseorang akan dapat menerapkan asas bernalar sehingga dapat menarik kesimpula ndengan tepat. Persoalan-persoalan logika antara lain apa yang dimaksud dengan pengertian?apa yang dimaksud dengan penyimpulan?Apa aturan-aturan untuk dapat menyimpulkan secara lurus?Sebutkan pembagian silogisme?.
b.   Epistemologi
     Epistemologi merupakan bagian filsafat yang menerangkan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan kesahihan pengetahuan. Contohnya dalam filsafat ilmu yaitu mempelajari tentang ciri-ciri pengetahuan ilmiah dan bagaimana cara mendapatkannya. Dengan belajar epistemologi dan filsafat ilmu diharapkan dapat membedakan antara pengetahuan dan ilmu serta mengetahui kebenaran suatu ilmu itu ditinjau dari isinya. Persoalan dalam epistemologi diantaranya bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?Darimana pengetahuan itu diperoleh?
c.    Etika
      Etika adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik-buruk. Etika dapat membantu kita mengetahui dan memahami tingkah laku apa yang baik menurut teori-teori tertentu. Jadi objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia yang dilakukan secara sadar dan bebas. Objek formal etika adalah kebaikan dan keburukan. Contoh persoalan yang berkaitan dnegan etika diantaranya Bagaimana peranan hati nurani dalam setiap perbuatan manusia?
d.   Estetika
     Estetika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang keindahan. Objek dari estetika adalah pengalaman akan keindahan. Dengan belajar estetika diharapkan dapat membedakan antara estetika filsafat dan estetika ilmiah, teori-teori keindahan, definisi seni, nilai seni dan teori penciptaan dalam seni. Persoalan yang berkaitan dengan etika misalnya Bagaimana hubungan antara keindahan dengan kebenaran?
e.    Metafisika
 Metafisika merupakan cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Metafisika membicarakan sesuaru di balik yang tampak. Dengan belajar metafisika maka seseorang akan mengenal Tuhannya. Perosalan metafisis dibagi tiga yaitu ontologi, kosmologi, dan antropologi. Contoh persoalan metafisika antara lain apakah ruang dan waktu itu? manusia sebagai mahluk bebas atau tidak bebas.

4. Manfaat Filsafat Bagi Manusia
    Filsafat mampu memberikan pemahaman yang menyeluruh (general) terhadap suatu wujud (ontologi) sekaligus memberikan konsep kebenaran (justifikasi) sekaligus memberikan konsep kebenaran. Filsafat mampu memberikan kepuasan bagi filsuf/seseorang karena kemampuannya dalam menggambarkan problem kehidupan yang sedang dan akan dihadapi sesuai dengan leluasan pemahamannya. Selanjutnya filsafat juga memberikan penjelasan bagaimana cara berprilaku dalam bermasayarakat dan bersosialisasi. Ajaran perilaku yang baik selalu diajarkan oleh agama manapun. Dan filsafat semakin memperjelas perilaku yang baik itu seperti apa dan yang tidak baik itu seperti apa. Etika berhubungan dengan yang lebih kecil, lebih tua dan sama besar juga perlu dimengerti. Dan yang paling mendasar dari ilm filsafat adalah sumber inspirasi bagi setiap bidang kehidupan yang ada yaitu ekonomi, pemerintahan dan pembangunan. Beberapa manfaat filsafat bagi manusia :
a.       Tidak menjadi sombong
Filsafat adalah ilmu kehidupan yang mempelajari berbagai kehidupan. Orang yang mengerti apa itu arti kehidupan menjadikannya lebih rendah hati dan tidak sombong karena itulah hakekat kehidupan. Hidup hanya sementara aja dan tidak akan selamanya. Semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Sang Pencipta.
b.      Berfikir kritis
Berfikir juga merupakan manfaat ilmu filsafat selanjutnya. Berfikir kritis mengajarkan kita untuk mempelajari ha-hal yang tidak diketahui dan mencari tahu kenyataanya. Berfikir kritis merupakan aspek yang diperlukan karena tidak semua orang memiliki fikiran yang kritis. Berfikir kritis berarti berfikiran terbuka yang tidak hanya siap untuk dinasehati namun juga menasehati.
c.       Mampu menyelesaikan masalah
Manfaat selanjutnya dari ilmu filsafat selain mengajak untuk berfikir secara kritis juga bermanfaat untuk menyelesaikan masalah. Dalam kehidupan yang namanya masalah tentu akan selalu ada. Dan untuk menghadapi masalah memerlukan ketenengan lahir dan batin. Sehingga hasil yang didapat tidak disesali kemudian hari. Mampu menyelesaikan masalah secara baik membuktikan bahwa memiliki jiwa yang besar tidak semua orang punya. Hanya orang tertentu saja yang bisa melakukannya. Jadi mempelajari ilmu filsafat dan memahami ilmu filsafat amat sangat penting untuk menentukan cara bersikap kita secara baik dalam menhadapi masalah dan menemukan solusi dari masalah tersebut.

Daftar Pustaka